Wakil Ketua KNPI Aceh, Sultan M. Yus (Foto: Ig/Illiza)
ACEHPUBLIKA.com | BANDA ACEH — Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Provinsi Aceh Sultan Muhammad Yus mengingatkan pemuda agar bijak menggunakan teknologi dan kritis menyaring informasi sebelum berkomentar. Menurutnya kemudahan akses informasi perlu diimbangi kebiasaan membaca utuh dan memahami berbagai perspektif.
Ia menilai kesalahpahaman sering muncul karena masyarakat tidak membaca isi informasi secara menyeluruh. Pemuda diminta tidak cepat menyimpulkan persoalan dari potongan informasi.
Sultan menyampaikan teknologi memudahkan pemuda dan masyarakat memperoleh informasi. Namun ia menyoroti kebiasaan tidak membaca sebelum berkomentar.
“Dengan adanya teknologi sekarang teman-teman bisa dengan mudah mendapatkan informasi, tapi yang menjadi masalah sekarang ada ini adalah tidak membaca tapi berkomentar, dan menunjukkan persoalan perspektif,” ujarnya.
Menurutnya persoalan perspektif membuat orang dapat memandang hal sama dengan cara berbeda. Perbedaan itu wajar. Namun perbedaan menjadi berbahaya jika pendapat pribadi dianggap sebagai fakta. Karena itu ia mengajak pemuda membedakan sudut pandang dari kenyataan. Ia juga meminta informasi diperiksa sebelum disimpulkan atau dikomentari.
Sultan memberi contoh perspektif untuk menjelaskan bahayanya jika disamakan dengan fakta.
“Perspektif itu tidak berbicara fakta, perspektif itu berbicara bagaimana cara pandang, orang bisa memandang sesuatu dengan cara yang berbeda walaupun sesuatu itu sama, seperti warna jeruk yang warnanya kuning, oleh perspektif dia bisa dibilang merah muda, segitu bahayanya perspektif,” ungkapnya.
Menurutnya perspektif dapat berbahaya jika dianggap sebagai kebenaran tunggal. Namun perspektif juga berharga bila digunakan dengan bijak. Dengan melihat dari sudut pandang berbeda, pemuda dan masyarakat dapat menemukan kemungkinan baru.
Mereka juga dapat menciptakan keadaan baru selama tetap berpijak pada fakta dan terbuka terhadap pandangan lain.
“Tapi disisi lain perspektif adalah alat yang paling bijak, alat yang paling efektif untuk menciptakan keadaan-keadaan baru,” katanya.

Ia menilai pemuda perlu membangun cara pandang kritis dengan membaca dan menganalisis persoalan. Kebiasaan itu penting agar tidak terjebak pada kesimpulan sepihak. Pemuda juga diminta berani memperjuangkan kebenaran ketika menemukannya.
Keberanian mengambil sikap dinilai penting meski kebenaran itu belum tentu disukai atau diterima. Menurutnya perubahan besar sering lahir dari keberanian tersebut. Ia mencontohkan peristiwa Rengasdengklok sebagai gambaran bahwa kemerdekaan tidak lahir tanpa keberanian mengambil sikap.
“Hari ini yang paling penting dilakukan oleh pemuda adalah bagaimana cara pandang kita terhadap persoalan. Mulai dengan membaca, mulai dengan menganalisa, dan jika sesuatu itu benar, jangan segan-segan diperjuangkan. Urusan disukai tidak disukai, urusan diterima atau tidak itu soal lain, karena Indonesia tidak akan merdeka jika tidak terjadinya peristiwa Rengasdengklok,” jelasnya.
Berani Memperjuangkan Kebenaran
Sultan berharap pemuda berani mendorong gagasan baru dan kemajuan tanpa menunda-nunda. Menurutnya hal baru dan gagasan yang sifatnya kemajuan tidak boleh menunggu waktu. Pemuda juga diminta belajar dari sejarah agar tidak mewariskan luka kepada generasi berikutnya.
Selain itu pemuda tidak perlu takut menghadapi perbedaan pendapat. Perbedaan itu dinilai bagian dari proses menuju keputusan bersama.
“Hal yang baru, gagasan yang sifatnya kemajuan, tidak boleh menunggu waktu. Hal hal yang harus dilakukan oleh pemuda adalah jangan meningalkan luka sejarah pada generasi selanjutnya, yang kedua jangan pernah takut pada ketidak setujuan, sampai kata tidak setuju itu menjadi keputusan bersama,” tutupnya.
