Daerah

Kisah Warga Huntara Aceh Tamiang, Dari Rumah Rusak ke Hunian Layak

ACEHPUBLIKA.com | ACEH TAMIANG – Mendung pekat dan hujan deras yang mengguyur tidak menyurutkan tawa riang anak-anak di kompleks Hunian Sementara (Huntara) Aceh Tamiang 4. Mereka tetap asyik berlarian di lapangan rumput, membiarkan pakaian basah, seolah menjadikan hujan sebagai teman bermain. Pemandangan itu menjadi penawar luka di tengah upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang memorak-porandakan kawasan tersebut akhir tahun lalu.

Melihat tingkah polah anak-anak itu, Awaludin (43) hanya bisa tersenyum. Penyintas asal Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, ini mengaku tak kuasa melarang buah hatinya menikmati waktu bermain.
“Biarkan saja dulu mereka bermain, asalkan hujan tidak disertai kilat atau petir. Kalau ada kilat, baru kami suruh mereka segera pulang,” kata Awaludin sembari mengamati anak-anak yang masih berkejaran di lapangan, Senin (11/8/2026).

Awaludin kini menempati salah satu dari 240 unit huntara yang dibangun melalui kolaborasi Kementerian Pekerjaan Umum, PT Wijaya Karya, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Di dalam unit sederhana itu, ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya.

Dua tempat tidur dan sebuah lemari menjadi saksi bagaimana keluarga ini perlahan menata kembali kehidupan mereka.

Bagi Awaludin, huntara bukan sekadar bangunan untuk berlindung dari panas dan hujan. Tempat ini adalah ruang bagi keluarganya untuk kembali menemukan rasa aman. Di sanalah anak-anaknya bisa beristirahat, belajar, bermain, dan perlahan meninggalkan rasa takut yang sempat menghantui pascabencana. Harapan pulih permanen pun terus ia genggam erat.

Kompleks Huntara Aceh Tamiang 4 tidak hanya menyediakan unit hunian bagi para penyintas. Sejumlah fasilitas pendukung turut melengkapi kawasan yang terletak di Desa Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, tersebut.

Kamar mandi bersama tersedia pada setiap blok, begitu pula dengan dapur umum yang bisa digunakan oleh seluruh penghuni.

Huntara ini juga dilengkapi tempat ibadah dan pasokan air bersih yang mengalir dengan baik dan lancar. Keberadaan fasilitas-fasilitas itu memungkinkan para penghuni memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari membangun kembali kebersamaan dengan sesama penyintas.

Rasa kekeluargaan yang sempat tercerai-berai akibat bencana perlahan kembali tumbuh di antara dinding-dinding sederhana itu.

Rasa syukur serupa juga disampaikan oleh Ngatrizal (66) dan istrinya, Yunita (61). Pasangan lanjut usia asal Desa Kebun Tanjung Seumantoh itu kini juga tinggal di kompleks Huntara Aceh Tamiang 4 setelah rumah mereka rusak parah.

“Alhamdulillah, kami bisa tinggal di huntara ini setelah rumah kami rusak parah,” ujar Ngatrizal.

Baginya dan Yunita, keberadaan huntara memberikan rasa tenang yang tak ternilai. Mereka tidak lagi harus memikirkan tempat berlindung yang aman, terutama ketika hujan kembali turun.

Ketenangan inilah yang menjadi pondasi awal untuk membangun harapan pulih permanen di masa depan.

Di sisi lain, upaya pemulihan tidak berhenti pada hunian sementara. Pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para penyintas melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat terus dilakukan. Di Aceh Tamiang, ratusan huntap telah rampung dibangun.

Beberapa di antaranya berasal dari Yayasan Buddha Tzu Chi di Kecamatan Karang Baru dan huntap yang dibangun oleh Polri di Kecamatan Kejuruan Muda. Kompleks huntap komunal itu kini berada dalam tahap penyelesaian akhir, termasuk pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial.

Langkah ini menjadi bukti bahwa harapan pulih permanen bagi para penyintas bencana di Aceh Tamiang bukan sekadar angan-angan, melainkan sebuah kenyataan yang semakin dekat. (Red)