Pemerintah Perkuat Cadangan Kedelai untuk Usaha Kecil
ACEHPUBLIKA.com — Pemerintah Indonesia mulai memperkuat cadangan kedelai yang dikuasai negara untuk membantu pelaku usaha kecil, terutama perajin tahu dan tempe. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menyatakan pentingnya memiliki cadangan kedelai untuk mendukung sektor ini.
Sebagaimana dilaporkan oleh CNBC Indonesia – Berita Ekonomi dan Bisnis Terkini Hari Ini, Amran menjelaskan bahwa saat ini kondisi harga kedelai dalam negeri masih banyak dipengaruhi oleh importir. Produsen tahu dan tempe mengeluhkan situasi ini, mengingat harga kedelai impor telah meningkat. Harga kedelai impor saat ini mencapai Rp 1,2 juta per kuintal, dari sebelumnya Rp 700 ribu per kuintal.
Pentingnya Cadangan Kedelai untuk Ekonomi Lokal
Amran juga mengatakan bahwa jika ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berminat untuk mengelola cadangan kedelai, pemerintah akan memberikan ruang sesuai ketentuan yang berlaku. Dia menegaskan, “Kalau BUMN berminat, saya kasih”. Namun, ia menegaskan bahwa semua proses tetap harus sesuai regulasi yang ada.
Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan menyatakan bahwa pasokan kedelai nasional masih mencukupi. Berdasarkan data Neraca Pangan Nasional Bapanas per 3 September 2026, total ketersediaan kedelai tahun 2026 diproyeksikan sekitar 3,046 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 2,755 juta ton. Dengan demikian, masih ada stok sekitar 290,9 ribu ton hingga akhir tahun ini.
Langkah Strategis untuk Stabilitas Harga
Pemerintah berupaya memastikan ketersediaan kedelai untuk menjaga stabilitas harga dan membantu pelaku usaha kecil. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi para produsen tahu dan tempe, yang sangat bergantung pada pasokan kedelai. Dengan adanya cadangan kedelai yang dikelola negara, diharapkan harga kedelai dapat lebih stabil dan tidak terlalu tergantung pada harga internasional.
