Daerah

Karhutla di Aceh Barat Meluas hingga 13 Hektare

ACEHPUBLIKA.com | MEULABOH – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Aceh Barat meluas dengan total area terdampak mencapai 13 hektare yang tersebar di empat kecamatan.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah mengatakan kebakaran pertama dilaporkan terjadi di Kecamatan Meureubo, Desa Gunong Kleng pada Jum’at (17/7) lalu dan telah berhasil ditangani dengan luas terdampak sekitar 0,5 hektare.

Sementara di tiga kecamatan lain, pihaknya masih berupaya melakukan proses pemadaman. Tiga kecamatan tersebut tersebar di Kecamatan Samatiga tepatnya di Desa Cot Seumeurueng seluas 4 hektare dan Desa Paya Lumpat seluas 3,5 hektare.

Kecamatan Johan Pahlawan di Desa Lapang seluas 1 hektare dan Desa Leuhan seluas 2 hektare, serta Kecamatan Woyla Barat di Desa Blang Luah seluas 2 hektare.

“Pada Jumat (24/7) kemarin timbul titik api yang berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi karhutla Blang luah, di lokasi tersebut masih dalam status pemantauan,” terang Teuku Ronald, Sabtu (25/7/2026).

Pihaknya juga telah melakukan upaya pemadaman dengan dilaksanakannya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hujan yang sempat melanda Aceh Barat beberapa waktu lalu juga cukup membantu petugas selama proses pemadaman sejumlah titik api.

Dikatakan Ronald, piihaknya juga telah menangani sekitar 75 persen api di lokasi Desa Cot Seumeureng, Desa Paya Lumpat, Desa Lapang dan Desa Leuhan.

“Namun, dikarenakan kondisi cuaca panas dan angin cukup kencang mengakibatkan api kembali menyala di lokasi yang sudah pernah kita siram yaitu di perbatasan Desa Cot Seumeurueng dengan Desa Paya Lumpat,” beber Ronald.

Sementara di Desa Blang Luah, pihaknya baru berhasil mengendalikan api sekitar 60 persen.

Dikatakan ronald, pemadaman total menjadi sulit dilakukan pihaknya karena kendala cuaca panas, angin kencang, dan sumber air yang terbatas.

Oleh karena itu, pihaknya bersama tim gabungan memilih untuk fokus dalam pembuatan sekat api agar kebakaran tidak merambat ke lahan lain yang masih hijau atau ke permukiman warga.

“Kita tetap fokus agar eskalasi karhutla ini tidak semakin meluas dan coba mempertahankan kawasan-kawasan yang masih hijau. Namun strategi ini tentunya tidak memastikan wilayah-wilayah sudah terdampak menjadi padam secara total,” jelas Ronald.

Menurutnya, strategi tersebut memang tidak langsung memadamkan seluruh api, sehingga di area yang sudah terbakar masih bisa ada bara api yang sewaktu-waktu menyala kembali.

“Kita tentunya berharap ada intervensi guyuran hujan deras yang dapat menuntaskan pemadaman secara menyeluruh di lokasi terdampak atau bantuan helikopter water bombing terutama untuk karakter tanah gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan,” sambungnya.

Hingga kini, kata dia BNPB masih melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan harapan dapat memicu hujan di wilayah terdampak sehingga proses pemadaman menjadi lebih efektif.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *