Polda Aceh

Pendekatan Dialog Kapolda Aceh Dinilai Selamatkan Situasi dari Bentrokan

ACEHPUBLIKA.com | BANDA ACEH – Ketua DPP Yayasan Solidaritas Generasi Aceh Perubahan (SIGAP), Dr. Samsuardi, MA, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah persuasif Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ruddi Setiawan, dalam menghadapi massa aksi peringatan Hari Damai Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu (15/8/2026). 

Apresiasi Kapolda Aceh tangani massa itu disampaikan atas keberanian Kapolda yang turun langsung ke tengah kerumunan.

Menurut Dr. Samsuardi, keberanian Irjen Pol. Ruddi Setiawan turun langsung ke tengah kerumunan merupakan cerminan kepemimpinan yang humanis, berani mengambil risiko demi mengedepankan dialog, dan menjaga ketenangan di momen yang sangat sensitif.

Ia menyoroti bahwa baru saja menjabat, Irjen Pol. Ruddi Setiawan telah dihadapkan pada ujian berat berupa gelombang massa yang menuntut tuntasnya implementasi MoU Helsinki pasca-21 tahun perdamaian Aceh.

“Publik menilai Jakarta belum serius merealisasi komitmen perjanjian tersebut. Realisasi yang baru mencapai 30% jelas jauh dari harapan masyarakat Aceh,” ujar Dr. Samsuardi yang juga merupakan Aneuk Eks Kombatan GAM.

Di tengah situasi kemarahan massa yang memuncak, Kapolda Aceh memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih memerintah dari belakang barisan keamanan, ia mendekat dan berbicara secara persuasif kepada para demonstran.

Langkah ini dinilai Dr. Samsuardi sebagai faktor kunci yang mampu meredam tensi dan menumbuhkan respons positif, meskipun sempat terjadi ketegangan saat prosesi penurunan bendera Bulan Bintang dan pembubaran massa.

“Ini adalah tindakan berani yang belum pernah tercatat dalam sejarah demonstrasi di Aceh. Dengan massa ribuan orang, seorang Kapolda memilih turun langsung menjumpai rakyat. Ini menunjukkan tingkat kepedulian pemimpin terhadap keselamatan masyarakat sekaligus komitmen nyata menjaga perdamaian,” tegas akademisi lulusan Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu.

Dr. Samsuardi menilai inisiatif Irjen Pol. Ruddi Setiawan layak diapresiasi oleh Kapolri dan jajaran petinggi Polri di pusat. Menurutnya, pendekatan humanis adalah strategi berisiko rendah namun berdampak besar untuk mencegah bentrokan fisik dan munculnya persoalan baru.

“Menghadapi massa yang tidak terkontrol, cara humanis adalah pendekatan yang paling tepat dan minim risiko,” katanya.

Lebih lanjut, Dr. Samsuardi mendorong Kapolda Aceh untuk terus memperkuat harmonisasi dengan masyarakat pasca-aksi damai. Ia menekankan pentingnya penanganan masalah secara tuntas dan kekeluargaan agar tidak memicu gejolak hukum atau konflik susulan.

Komunikasi intensif, deteksi dini, serta langkah bersama yang terukur menjadi kunci stabilitas jangka panjang.

“Soliditas antara TNI, Polri, pemerintah daerah, instansi vertikal, serta elemen masyarakat sipil sangat dibutuhkan untuk menjamin Aceh tetap kondusif. Perdamaian bukan hanya tentang hilangnya suara senjata, tetapi tentang hadirnya rasa aman dan didengar oleh negara,” pungkas Dr. Samsuardi menutup keterangannya.

Apresiasi Kapolda Aceh tangani massa ini menjadi sinyal bahwa pendekatan humanis dan dialog terbuka semakin dibutuhkan dalam pengelolaan aksi masyarakat. Langkah Kapolda Aceh diharapkan menjadi contoh bagi aparat di daerah lain dalam menghadapi situasi serupa tanpa mengedepankan kekerasan. (red)