Bursa Asia Tertekan: IHSG dan KOSDAQ Alami Penurunan Signifikan
ACEHPUBLIKA | JAKARTA — Bursa saham Asia mengalami tekanan yang signifikan, dengan IHSG turun 0,7% hari ini. Penurunan ini terjadi di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas. Sebagian besar saham di bursa mencatat pelemahan, terutama sektor konsumen primer yang merosot hingga 1,24%.
Saham energi dan infrastruktur juga mengalami penurunan, masing-masing sebesar 1,22% dan 1,19%. Penurunan IHSG sejalan dengan kondisi bursa di Amerika Serikat, di mana Wall Street juga melemah. Indeks Nasdaq Composite turun 0,65%, sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 masing-masing turun 0,61% dan 0,58%.
Sentimen pasar terganggu oleh ketegangan yang kembali meningkat antara AS dan Iran. Konflik ini tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan kedua negara tidak menunjukkan niat untuk berunding. Pertempuran semakin intensif setelah serangan AS terhadap kapal tanker minyak Iran dan serangan rudal ke Yordania.
Rebecca Babin, Trader Energi Senior di CIBC Private Wealth Group, menyatakan bahwa “serangan lanjutan terhadap kapal tanker bahan bakar dan retorika yang muncul menunjukkan bahwa konflik ini bisa berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan para analis.” Lonjakan harga minyak mentah juga menjadi faktor penting dalam situasi ini.
Harga minyak mentah global menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, dengan West Texas Intermediate (WTI) melampaui US$104 per barel. Harga Brent juga meningkat di atas US$108, mencapai level tertinggi sejak Juli. Lonjakan harga ini diperkirakan akan meningkatkan inflasi dan meningkatkan risiko yang ada.
Ketegangan ini muncul hanya beberapa hari menjelang rapat Federal Reserve AS. Para trader memperkirakan peluang 70% untuk kenaikan suku bunga, meningkat dari 40% sebelumnya. Laporan inflasi produsen AS yang lebih tinggi dari estimasi juga mendorong pasar untuk meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga.
Indeks Harga Produsen (IHP) AS menunjukkan kenaikan 0,4% pada bulan Agustus dibanding bulan sebelumnya, yang merupakan kenaikan terbesar sejak Mei. Secara tahunan, IHP meningkat 5,4%. Tanpa komponen pangan dan energi, indeks IHP menguat 0,2% bulan lalu dan 4,6% secara tahunan.
Melihat data IHP yang masih tinggi, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga tahun ini meskipun tidak ada keputusan pasti. Pelaku pasar saat ini sangat memperhatikan perkembangan ini sebagai indikasi arah kebijakan moneter ke depan.
