Pendidikan

Kisah Pengabdian Warul Walidin untuk UIN Ar-Raniry

ACEHPUBLIKA.com | BANDA ACEH — Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Warul Walidin AK, MA, meninggal dunia pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 08.30 WIB. Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh dalam usia 67 tahun akibat sakit jantung yang dideritanya.

Kabar duka ini disambut dengan rasa kehilangan mendalam dari kalangan civitas akademika UIN Ar-Raniry, mengingat rekam jejak Warul Walidin yang membentang lebih dari empat dekade di kampus tersebut.

Jejak Panjang Empat Dekade di UIN Ar-Raniry

Warul Walidin lahir di Desa Mamplam, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, pada 12 November 1958. Karier akademiknya dimulai sejak 1983 saat masih berstatus dosen di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, sebelum berpindah mengabdi ke Fakultas Tarbiyah.

Setelah menyelesaikan program doktor pada 1997, ia mulai mengajar di Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry sekaligus dipercaya menjabat Ketua Jurusan Kependidikan Islam hingga tahun 2000. Tak lama berselang, pada 2000-2001, ia mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah.

Puncak kariernya terjadi pada 2 Juli 2018, saat Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melantiknya sebagai Rektor UIN Ar-Raniry periode 2018-2022. Masa jabatannya bahkan sempat diperpanjang sebagai tugas tambahan sejak 2 Juli 2022 hingga rektor baru resmi dilantik.

Selain aktif di dunia kampus, almarhum juga tercatat sebagai bagian dari Majelis Pendidikan Daerah dan Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, dua lembaga strategis yang berperan penting dalam arah pendidikan dan keislaman di Aceh.

Sosok Guru Bangsa yang Dekat dengan Mahasiswa

Rektor UIN Ar-Raniry saat ini, Prof. Mujiburrahman, turut menyampaikan duka mendalam atas kepergian sang senior. Baginya, Warul bukan sekadar mantan rektor, melainkan sosok guru bangsa yang meninggalkan jejak pemikiran bagi kampus maupun masyarakat Aceh secara luas.

Kehilangan ini dinilai semakin terasa karena gagasan dan pemikiran Warul masih sangat dibutuhkan, terlebih UIN Ar-Raniry kini tengah memasuki periode kepemimpinan baru 2026-2030 dengan sejumlah agenda pengembangan dan visi besar.

Semasa menjabat, Warul dikenal luas sebagai sosok yang dekat dengan mahasiswa dan penuh empati. Salah satu momen yang membekas di ingatan publik adalah ketika ia sendiri turun tangan mengantarkan toga wisuda ke rumah orang tua seorang mahasiswi yang wafat sebelum sempat menerima gelarnya.

Gestur tersebut menjadi bukti nyata kepeduliannya yang tulus terhadap seluruh civitas akademika, bukan sekadar menjalankan seremoni formal semata.

Dalam berbagai kesempatan, Warul juga kerap menekankan pentingnya beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia meyakini bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang datang silih berganti harus diimbangi dengan kreasi, inovasi, serta terobosan yang realistis dan rasional.

Total lebih dari 40 tahun masa pengabdiannya menempatkan Warul Walidin sebagai salah satu akademisi dengan rekam jejak terpanjang di Aceh, dari dosen muda hingga memimpin kampus Islam tertua di provinsi tersebut.

Jenazah almarhum rencananya akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Gampong Seupeu, Aceh Besar. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.**