JAKARTA | ACEHPUBLIKA.com – Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi edisi paling besar dalam sejarah sepak bola modern. Untuk pertama kalinya, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu akan diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Keputusan FIFA tersebut memunculkan berbagai pertanyaan dari publik. Banyak yang bertanya mengapa turnamen sebesar Piala Dunia tidak lagi diselenggarakan oleh satu negara seperti edisi-edisi sebelumnya. Bahkan, tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan berbagai isu geopolitik internasional yang berkembang saat ini.
Namun jika ditelaah lebih jauh, keputusan FIFA sebenarnya lebih didorong oleh pertimbangan teknis, ekonomi, dan strategi pengembangan sepak bola global dibanding faktor politik tertentu.
Turnamen Terbesar Sepanjang Sejarah
Piala Dunia 2026 akan menghadirkan format baru dengan jumlah peserta yang meningkat dari 32 menjadi 48 tim nasional.
Perubahan tersebut membuat jumlah pertandingan melonjak menjadi 104 laga yang akan digelar di 16 kota tuan rumah di kawasan Amerika Utara.
Besarnya skala kompetisi ini membuat kebutuhan stadion, akomodasi, transportasi, keamanan, hingga layanan publik meningkat secara signifikan dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Dalam kondisi seperti itu, FIFA menilai model satu negara tuan rumah akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, baik dari sisi pembiayaan maupun manajemen penyelenggaraan.
Karena itulah konsep tuan rumah bersama dipandang sebagai solusi yang lebih efektif untuk mendistribusikan beban penyelenggaraan sekaligus memaksimalkan infrastruktur yang sudah tersedia.
Amerika Serikat Sebenarnya Mampu
Secara kapasitas, Amerika Serikat sebenarnya dinilai sanggup menjadi tuan rumah tunggal.
Negara tersebut memiliki stadion berstandar internasional, jaringan transportasi yang luas, pengalaman menggelar event olahraga berskala raksasa, serta kemampuan logistik yang sangat kuat.
Namun FIFA memiliki pertimbangan yang lebih luas daripada sekadar kesiapan infrastruktur.
Salah satunya adalah memperluas dampak ekonomi turnamen ke negara-negara tetangga. Dengan melibatkan Kanada dan Meksiko, manfaat ekonomi dari Piala Dunia dapat dirasakan oleh lebih banyak wilayah di kawasan Amerika Utara.
Selain itu, FIFA juga ingin memperkuat citra sepak bola sebagai sarana kolaborasi lintas negara melalui pendekatan yang dikenal sebagai sport diplomacy atau diplomasi olahraga.
Strategi Baru FIFA
Piala Dunia 2026 sekaligus menjadi simbol lahirnya model baru penyelenggaraan turnamen internasional yang dikenal sebagai shared hosting model.
Melalui konsep ini, FIFA dapat mengurangi kebutuhan pembangunan stadion baru, menekan biaya infrastruktur, serta memanfaatkan fasilitas yang sudah ada di berbagai negara.
Model tersebut juga dinilai mampu mengurangi risiko ekonomi maupun politik yang mungkin muncul apabila seluruh penyelenggaraan hanya bergantung pada satu negara.
Di sisi lain, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dianggap memiliki karakter yang saling melengkapi.
Amerika Serikat menjadi pusat ekonomi dan industri media, Kanada menawarkan stabilitas serta pasar baru yang terus berkembang, sementara Meksiko dikenal memiliki basis pendukung sepak bola yang sangat besar dan fanatik.
Kombinasi ketiga negara itu dinilai memberikan nilai tambah bagi FIFA dalam memperluas jangkauan pasar sepak bola global.
Benarkah Ada Kaitan dengan Iran?
Di tengah berbagai dinamika politik internasional, muncul pula spekulasi yang mengaitkan format tiga negara tuan rumah dengan keberadaan negara peserta tertentu, termasuk Iran.
Namun hingga saat ini tidak terdapat bukti maupun dasar struktural yang menunjukkan bahwa negara peserta mempengaruhi keputusan FIFA dalam menentukan tuan rumah Piala Dunia.
Penetapan tuan rumah dilakukan bertahun-tahun sebelum proses kualifikasi selesai dan tidak bergantung pada tim mana saja yang nantinya lolos ke putaran final.
Meski demikian, faktor geopolitik tetap bisa berpengaruh secara tidak langsung, terutama terkait kebijakan visa, hubungan diplomatik antarnegara, hingga aspek keamanan selama turnamen berlangsung.
Namun faktor-faktor tersebut bukanlah alasan utama di balik keputusan FIFA menunjuk tiga negara sebagai tuan rumah bersama.
Cerminan Geopolitik Olahraga Modern
Pengamat olahraga menilai Piala Dunia 2026 menjadi gambaran bagaimana olahraga kini semakin berperan sebagai instrumen soft power dalam hubungan internasional.
FIFA tampaknya mulai mendorong model kolaboratif yang memungkinkan beberapa negara berbagi tanggung jawab dalam menyelenggarakan event global.
Pendekatan serupa sebelumnya juga pernah diterapkan dalam sejumlah turnamen besar, termasuk beberapa edisi Piala Eropa (Euro) yang digelar di banyak negara sekaligus.
Kesimpulan
Piala Dunia 2026 bukan digelar di tiga negara karena faktor politik tertentu atau pengaruh negara peserta. Keputusan tersebut lebih didorong oleh kebutuhan menghadapi skala turnamen yang semakin besar, efisiensi penyelenggaraan, pemanfaatan infrastruktur yang ada, serta strategi FIFA untuk memperluas pasar sepak bola dunia.
Dengan 48 tim peserta dan lebih dari 100 pertandingan, edisi 2026 akan menjadi ujian sekaligus tonggak baru bagi FIFA dalam menerapkan model penyelenggaraan multinasional yang kemungkinan besar akan semakin sering digunakan pada turnamen besar di masa mendatang. (Au)
