Banjir di Aceh akibat curah hujan tinggi
ACEHPUBLIKA.com — Hampir setahun berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Bencana tersebut meninggalkan luka mendalam: korban jiwa, rumah yang hancur, serta infrastruktur yang terputus. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus berjuang memulai kembali kehidupan dari titik yang nyaris nol.
Data yang dirilis pada Desember 2025 menunjukkan betapa luasnya dampak bencana tersebut. Hingga 18 Desember 2025, rekapitulasi Kajian Kebutuhan Bersama mencatat 1.068 orang meninggal dunia dan 190 orang hilang. Kerusakan juga meliputi ratusan ribu rumah dan berbagai fasilitas publik, menggambarkan kehidupan manusia yang berubah dalam sekejap.
Dampak Banjir dan Longsor di Aceh
Kini, ketika sebagian masyarakat masih berjuang memulihkan kehidupan, banjir dan longsor kembali terjadi di sejumlah wilayah Aceh. Awal Oktober 2026, hujan berintensitas tinggi memicu bencana di Gayo Lues dan Aceh Tengah, merendam sejumlah rumah dan mengganggu akses jalan. Badan Penanggulangan Bencana Aceh mencatat 234 kejadian bencana hingga September 2026, dengan kerugian mencapai Rp186 miliar.
Setiap kali banjir datang, masyarakat kembali menghadapi masalah yang sama: rumah terendam, akses jalan terganggu, dan aktivitas ekonomi terhenti. Proses pembersihan dan perbaikan dimulai setelah air surut, tetapi kerusakan serupa dapat terulang ketika hujan deras kembali mengguyur. Dalam hal ini, penanganan bencana harus lebih dari sekadar respons darurat; dibutuhkan solusi jangka panjang.
Menghadapi Siklus Bencana
Persoalan mendasarnya adalah apakah pemulihan yang dilakukan sudah menyentuh akar persoalan atau hanya sekadar memperbaiki kerusakan yang terlihat. Masyarakat tidak boleh terjebak dalam siklus tanggap darurat dan perbaikan sementara. Penanganan bencana harus berfokus pada upaya pencegahan dan penguatan infrastruktur agar tidak terulang kembali di masa depan.
